by

Kabid SMA Provinsi Lampung Sengaja Menghindari dan Mengelabui wartawan yang Hendak Konfirmasi

MNN] Lampung – Bandar Lampung Kabid SMA Dinas Pendidikan Provinsi Lampung DIONA sepertinya alergi dengan wartawan sebab saat di kunjungi wartawan media ini pada hari kamis tanggal 28 Maret lalu untuk konfirmasi terkait pungutan-pungutan di seluruh SMAN dan SMA Swasta yang berada di Provinsi Lampung yang mengatasnamakan sumbangan atau uang komite yang jumlah nya sangat pantastis sehingga banyak siswa yang orang tuanya tidak mampu menjadi korban kekejaman pungutan tersebut,

Di antara nya ketika siswa hendak mengikuti ujian tidak bisa mendapatkan nomer ujian karena belum melunasi pungutan tersebut ada juga yang di potong langsung oleh pihak sekolah dari bantuan yang di dapat oleh siswa dari pemerintah pusat seperti KIP/PIP kemudian banyak sekali yang terjadi ijazah kelulusan siswa yang di tahan oleh pihak sekolah karena siswa belum melunasi pungutan yang mengatasnamakan komite atau sumbangan tersebut,

Salah satu contoh yang terjadi di SMA PGRI 2 Marga Tiga Kabupaten Lampung Timur pihak sekolah memotong langsung dari bantuan KIP/PIP Yang di dapat oleh siswa dan pemotongan tersebut tidak tanggung tangung mencapai Rp 800 ribu per siswa, karena hal ini lah Herwandi selaku redaktur media ini mengunjungi Dinas Pendidikan Provinsi Lampung untuk konfirmasi terkait hal itu namun sepertinya Kabid SMA yang bernama DIONA tersebut sengaja menghindari awak media sebab pada saat Herwandi sampai di depan ruangan Kabid SMA banyak sekali kepala sekolah yang anteri untuk masuk ke ruangan menemui Kabid tersebut kemudian Herwandi bertanya apakah ibu DIONA ada,,? kepada salah satu staf yang ada di lobi ruangan Kabid SMA tersebut beliau mengatakan ada Pak tapi anteri masih banyak yang belum masuk bapak tunggu saja dulu,

Ada pak tapi masih banyak tamu di dalam dan masih banyak juga yang sedang anteri” jawab staf tersebut.

Kemudian Herwandi keluar sebentar untuk mengambil atribut media ke mobil berselang 30 menit Herwandi masuk lagi dan bertanya lagi kepada Staf tersebut jawabnya sabar ya pak bapak silahkan nunggu di lobi depan sana aja pak seraya staf tersebut mengunci pintu masuk lobi ruangan Kabid,

Iya pak bapak sabar dulu ya pak ibu masih ada tapi bapak sebaik nya tunggu di ruang tunggu di depan sana aja pak” kata staf tersebut,

Lalu Herwandi keluar lagi dan mengikuti petunjuk staf tersebut menunggu lah Herwandi di ruang tunggu paling depan berselang 1 jam Herwandi kembali masuk menuju ruangan DIONA selaku Kabid SMA dan ternyata sesampainya di depan Ruangan Kabid dan mencoba mengetuk Pintu ternyata pintu tersebut sudah terkunci dan tidak ada seorang pun berada di sana alias Menghilang bak di telan bumi

Sesuai dengan pemberitaan media ini edisi hari Kamis 25 Januari 2024 yang lalu bahwa :

pemerintah sangat memperhatikan pendidikan anak Bangsa oleh karena itu Pemerintah banyak mengucurkan Dana atau program untuk menunjang dan membantu anak bangsa bagi orang tua nya yang tidak mampu agar anak bangsa yang akan di jadikan sebagai generasi penerus untuk NKRI bisa mendapatkan pendidikan yang layak, salah satunya adalah PIP (program Indonesia Pintar) program ini langsung bersentuhan dengan Siswa dan di masuk kan langsung ke Rekening Siswa yang mendapat bantuan dari program tersebut.

Namun bantuan tersebut di mempaat kan oleh oknum kepala sekolah untuk mengambil ke untungan, seperti yang terjadi di SMA PGRI 2 Marga Tiga Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung, persiswa mendapatkan Dana Batuan Program PIP sebesar Rp 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) per siswa Namun oknum Kepala Sekolah tersebut Memotong uang Bantuan PIP itu sebesar Rp 800.000,- (Delapan Ratus Ribu Rupiah) per Siswa sehingga siswa hanya mendapatkan 200 ribu dari bantuan PIP tersebut, dengan cara, Siswa yang mendapat bantuan PIP yang berjumlah 100 orang tersebut di minta oleh pihak Sekolah agar menandatangani surat Kuasa atas Nama Kepala Sekolah yang sudah di siapkan oleh pihak sekolah, untuk pengambilan batuan tersebut ke Bank yang sudah di tunjuk pemerintah untuk penyaluran bantuan Program PIP tersebut.

Menurut keterangan salah satu siswa yang mewakili teman-temannya dan namanya di mintak agar di rahasiakan saat di wawancara di luar lokasi Sekolah Tanggal 20 Januari 2024 yang lalu mengatakan” awal nya kami mendapat pemberitahuan dari pihak sekolah bahwa kami yang berjumlah 100 orang ini mendapatkan bantuan dari program PIP kemudian kami di suruh menandatangi Surat kuasa untuk pengambilan uang bantuan itu ke bank atas nama kepala sekolah, karena kami tidak tau aturan dari pengambilan uang itu ke bang sehingga kami ikuti kemauan pihak sekolah dan menandatangani surat kuasa tersebut” terangnya.

Dan pada bulan Januari kami yang mendapatkan bantuan itu di panggil oleh pihak sekolah tambahnya, lalu kami di beri oleh pihak sekolah uang sebesar Rp 200 ribu, setelah itu ada yang bertanya kok cuma dapat 200 ribu bukan nya kami mendapat bantuan itu sebesar 1 Juta namun kepala sekolah menjawab sisanya untuk keperluan sekolah” tutupnya.

Kemudian saat di konfirmasi Sukendar selaku Kepala Sekolah SMA PGRI 2 Marga Tiga oleh media ini di ruang kerjanya pada hari Sabtu tanggal 27 Januari 2024 yang lalu mengatakan” iya benar pak ada pemotongan itu, tapi kenapa Bapak tidak menanyakan keperluannya untuk apa, Kalau begitu saya akan menjelaskan keperluannya untuk apa, uang itu untuk melunasi uang Komite mereka yang belum lunas kemudian untuk jajan mereka di Sekolah, dan pengambilan itu sudah di setujui siswa karena mengingat kalau siswa yang mengambil sendiri banyak biaya yang harus di keluarkan, untuk ongkos mobil lah karena kalau ngambilnya bersamaan otimatis kita nyewa bis, belum lagi uang makannya siswa itu sendiri, karena semua itu harus di tanggung oleh siswa masa pihak sekolah yang harus menanggungnya, makanya saya berinsiatif untuk mengambilnya sendiri dan Bapak juga tidak bisa memberitakan hal ini tanpa izin dari saya” terang Sukendar. (Red)

50 315 total views, 50 27 views today