<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Opini - MNN</title>
	<atom:link href="https://merpatinusantaranews.com/topic/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://merpatinusantaranews.com</link>
	<description>Cepat, Tepat &#38; Akurat</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Feb 2024 11:56:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.10</generator>

<image>
	<url>https://merpatinusantaranews.com/wp-content/uploads/2026/05/cropped-LOGO-MNN-1-90x90.png</url>
	<title>Opini - MNN</title>
	<link>https://merpatinusantaranews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mendefinisikan Kembali “Politik Uang” Sebagai Gerbang Kehancuran Demokrasi</title>
		<link>https://merpatinusantaranews.com/2024/02/12/mendefinisikan-kembali-politik-uang-sebagai-gerbang-kehancuran-demokrasi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mendefinisikan-kembali-politik-uang-sebagai-gerbang-kehancuran-demokrasi</link>
					<comments>https://merpatinusantaranews.com/2024/02/12/mendefinisikan-kembali-politik-uang-sebagai-gerbang-kehancuran-demokrasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[merpati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Feb 2024 11:56:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://merpatinusantaranews.com/?p=6545</guid>

					<description><![CDATA[<p>MNN] Lampung. Pasca transisi dari era Order Baru ke Era Reformasi, Politik tidak lagi dipengaruhi kekuatan system pemerintahan melalui lembaga-lembaga yang ditunjuk <a class="read-more" href="https://merpatinusantaranews.com/2024/02/12/mendefinisikan-kembali-politik-uang-sebagai-gerbang-kehancuran-demokrasi/" title="Mendefinisikan Kembali “Politik Uang” Sebagai Gerbang Kehancuran Demokrasi" itemprop="url"></a></p>
<p>The post <a href="https://merpatinusantaranews.com/2024/02/12/mendefinisikan-kembali-politik-uang-sebagai-gerbang-kehancuran-demokrasi/">Mendefinisikan Kembali “Politik Uang” Sebagai Gerbang Kehancuran Demokrasi</a> first appeared on <a href="https://merpatinusantaranews.com">MNN</a>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://merpatinusantaranews.com/2024/02/12/mendefinisikan-kembali-politik-uang-sebagai-gerbang-kehancuran-demokrasi/">Mendefinisikan Kembali “Politik Uang” Sebagai Gerbang Kehancuran Demokrasi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://merpatinusantaranews.com">MNN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MNN] Lampung. </strong>Pasca transisi dari era Order Baru ke Era Reformasi, Politik tidak lagi dipengaruhi kekuatan system pemerintahan melalui lembaga-lembaga yang ditunjuk untuk mengawal proses Pemilu.</p>
<p>Dinamika Politik sudah terinfiltrasi oleh kekuatan Kapital atau ekonomi dalam rangka menjadi faktor penentu sebuah kemenangan dalam kontestasi Demokrasi di Indonesia.</p>
<p>Melalui strategi politik uang yang merujuk pada penggunaan nya dalam rangka memuluskan langkah politik pihak yang berkepentingan, telah merusak integritas politik dan membahayakan prinsip-prinsip Demokrasi.</p>
<p>Politik uang mengubah landscape politik menjadi arena transaksional, di mana kepentingan pribadi dan kelompok dipertaruhkan demi tercapainya tujuan.</p>
<p>Dalam konteks ini, kepentingn publik seringkali terabaikan dan kebijakan yang dihasilkan cenderung tidak pro kepada rakyat, terlebih hanya mempertimbangkan kepentingan kelompok yag memiliki support finansial.</p>
<p>Salah satu dampak negatif yang paling mencolok dari politik uang adalah distorsi dalam proses demokrasi. Ketika uang memainkan peran dominan dalam politik, suara rakyat menjadi terpinggirkan.</p>
<p>Calon atau partai politik yang kaya memiliki keunggulan dalam mempengaruhi pemilih melalui kampanye yang mahal dan kekuatan belanja suara di bawah, sementara calon yang berkualitas tetapi kurang mendapatkan dukungan finansial sering kali tertinggal.</p>
<p>Politik uang juga memicu korupsi dan praktik politik yang tidak etis. Para politisi yang mencari pendanaan besar-besaran sering kali terjebak pada korupsi dan menawarkan konsesi yang tidak bermanfaat kepada kepentingan rakyat hanya untuk mendapatkan dukungan finansial.</p>
<p>Selain itu, politik uang juga menciptakan ketidakadilan sosial. Kesenjangan antara politisi yang kaya dan masyarakat biasa semakin memperdalam kesenjangan sosial dan ekonomi</p>
<p>Masyarakat yang kurang mampu sering kali tidak memiliki akses yang sama ke perwakilan politik yang berkualitas, karena calon yang miskin memiliki keterbatasan dalam mengumpulkan dana kampanye.</p>
<p>Dalam narasi yang lebih mendalam, politik uang justru akan menghancurkan inegritas politik dan demokrasi untuk masa yang panjang, hilangnya harapan anak muda Indonesia yang ingin melakukan perubahan-perubahan dimasa yang akan datang, karena mahalnya cost politik dan keterbatasan finansial.</p>
<p>Memperpanjang rentetan politik dinasti, yang seyogyanya kita tentang keberadaannya ditengah semangat menjadikan Indonesia sebagai Negara yang Demokratis.</p>
<p>Bahwa berpolitik adalah Hak yang melekat pada warga Negara, hak dipilih dan hak memilih tidak boleh ada stadarisasi dan limitasinya.</p>
<p>Mereka yang berhak adalah mereka yang dianggap lulus kualifikasi personal dan kemampuan kepemimpinan, alih-alih kemampuan finansial.</p>
<p>Dampak politik uang harus kita lihat sebagai ancaman yang sangat besar, bagi demokrasi dan keadilan sosial. Hanya melalui upaya bersama Masyarakat, Partai Politik dan Politisinya, Pemerintah, kita dapat menyelesaikan masalah ini dan mengembalikan integritas politik dan Demokrasi kea rah yang benar.</p>
<p><strong>Oleh:Harpani Ketua Senat Mahasiswa</strong></p>
<div class="pvc_clear"></div>
<p class="pvc_stats all " data-element-id="6545" style=""><i class="pvc-stats-icon medium" aria-hidden="true"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" version="1.0" viewBox="0 0 502 315" preserveAspectRatio="xMidYMid meet"><g transform="translate(0,332) scale(0.1,-0.1)" fill="" stroke="none"><path d="M2394 3279 l-29 -30 -3 -207 c-2 -182 0 -211 15 -242 39 -76 157 -76 196 0 15 31 17 60 15 243 l-3 209 -33 29 c-26 23 -41 29 -80 29 -41 0 -53 -5 -78 -31z"/><path d="M3085 3251 c-45 -19 -58 -50 -96 -229 -47 -217 -49 -260 -13 -295 52 -53 146 -42 177 20 16 31 87 366 87 410 0 70 -86 122 -155 94z"/><path d="M1751 3234 c-13 -9 -29 -31 -37 -50 -12 -29 -10 -49 21 -204 19 -94 39 -189 45 -210 14 -50 54 -80 110 -80 34 0 48 6 76 34 21 21 34 44 34 59 0 14 -18 113 -40 219 -37 178 -43 195 -70 221 -36 32 -101 37 -139 11z"/><path d="M1163 3073 c-36 -7 -73 -59 -73 -102 0 -56 133 -378 171 -413 34 -32 83 -37 129 -13 70 36 67 87 -16 290 -86 209 -89 214 -129 231 -35 14 -42 15 -82 7z"/><path d="M3689 3066 c-15 -9 -33 -30 -42 -48 -48 -103 -147 -355 -147 -375 0 -98 131 -148 192 -74 13 15 57 108 97 206 80 196 84 226 37 273 -30 30 -99 39 -137 18z"/><path d="M583 2784 c-38 -19 -67 -74 -58 -113 9 -42 211 -354 242 -373 16 -10 45 -18 66 -18 51 0 107 52 107 100 0 39 -1 41 -124 234 -80 126 -108 162 -133 173 -41 17 -61 16 -100 -3z"/><path d="M4250 2784 c-14 -9 -74 -91 -133 -183 -95 -150 -107 -173 -107 -213 0 -55 33 -94 87 -104 67 -13 90 8 211 198 130 202 137 225 78 284 -27 27 -42 34 -72 34 -22 0 -50 -8 -64 -16z"/><path d="M2275 2693 c-553 -48 -1095 -270 -1585 -649 -135 -104 -459 -423 -483 -476 -23 -49 -22 -139 2 -186 73 -142 361 -457 571 -626 285 -228 642 -407 990 -497 242 -63 336 -73 660 -74 310 0 370 5 595 52 535 111 1045 392 1455 803 122 121 250 273 275 326 19 41 19 137 0 174 -41 79 -309 363 -465 492 -447 370 -946 591 -1479 653 -113 14 -422 18 -536 8z m395 -428 c171 -34 330 -124 456 -258 112 -119 167 -219 211 -378 27 -96 24 -300 -5 -401 -72 -255 -236 -447 -474 -557 -132 -62 -201 -76 -368 -76 -167 0 -236 14 -368 76 -213 98 -373 271 -451 485 -162 444 86 934 547 1084 153 49 292 57 452 25z m909 -232 c222 -123 408 -262 593 -441 76 -74 138 -139 138 -144 0 -16 -233 -242 -330 -319 -155 -123 -309 -223 -461 -299 l-81 -41 32 46 c18 26 49 83 70 128 143 306 141 649 -6 957 -25 52 -61 116 -79 142 l-34 47 45 -20 c26 -10 76 -36 113 -56z m-2057 25 c-40 -58 -105 -190 -130 -263 -110 -324 -59 -707 132 -981 25 -35 42 -64 37 -64 -19 0 -241 119 -326 174 -188 122 -406 314 -532 468 l-58 71 108 103 c185 178 428 349 672 473 66 33 121 60 123 61 2 0 -10 -19 -26 -42z"/><path d="M2375 1950 c-198 -44 -350 -190 -395 -379 -18 -76 -8 -221 19 -290 114 -284 457 -406 731 -260 98 52 188 154 231 260 27 69 37 214 19 290 -38 163 -166 304 -326 360 -67 23 -215 33 -279 19z"/></g></svg></i> 50&nbsp;1,359&nbsp;total views</p>
<div class="pvc_clear"></div><p>The post <a href="https://merpatinusantaranews.com/2024/02/12/mendefinisikan-kembali-politik-uang-sebagai-gerbang-kehancuran-demokrasi/">Mendefinisikan Kembali “Politik Uang” Sebagai Gerbang Kehancuran Demokrasi</a> first appeared on <a href="https://merpatinusantaranews.com">MNN</a>.</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://merpatinusantaranews.com/2024/02/12/mendefinisikan-kembali-politik-uang-sebagai-gerbang-kehancuran-demokrasi/">Mendefinisikan Kembali “Politik Uang” Sebagai Gerbang Kehancuran Demokrasi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://merpatinusantaranews.com">MNN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://merpatinusantaranews.com/2024/02/12/mendefinisikan-kembali-politik-uang-sebagai-gerbang-kehancuran-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 32/54 objects using memcached
Page Caching using disk: enhanced 
Database Caching 2/39 queries in 0.064 seconds using redis

Served from: merpatinusantaranews.com @ 2026-10-12 12:36:59 by W3 Total Cache
-->