by

Arogan, Direktur RSUD Tubaba Pecat Pegawainya Hanya Karena Hal Remeh

Tubaba,MNN.com – Bidan di Rumah Sakit Umum Tulang Bawang Barat, menjadi korban arogansi direkturnya. Pengabdian dan harapannya menjadi ASN atau PPPK dari jalur tenaga honorer harus berakhir ditangan sang direktur dr. Purnomo Satrio Wibowo, pemberhentiannya hanya karena permasalahan spele yang sebetulnya bukan mutlak kesalahan sang Bidan.

 

Adalah Dian Panca Dena Eka Putri, Amd. Keb, bidan honor asal Kabupaten induk (Tulangbawang) yang ditugaskan dibagian pendaftaran di RSUD Tulang Bawang Barat (Tubaba), mengaku telah bersusah payah mengabdi selama 7 tahun. Pulang Pergi (PP) Menggala – Panaragan, jarak yang cukup jauh dan masih banyak tempat sepi bukanlah hal yang mudah bagi seorang perempuan.

 

Dena diduga dipecat diduga terlalu vocal menyampaikan aspirasi dan ada ketersinggungan Purnomo lantaran Dena menyebut namanya tanpa menyertakan panggilan kehormatan selalu yakni panggilan Pak Direktur atau Pak Dokter pada saat berselisih faham dengan keluarga pasien.

 

“Awal mula permasalahannya, karena ada keluarga pasien orang dinas kesehatan menyampaikan akan mendaftar di jam yang sudah lewat siang, secara kebetulan pasien di RSUD Tubaba juga sedang full,” tutur Dena.

 

Padahal, lanjutnya, apa yang ia sampaikan kepada keluarga pasien itu, merupakan kesepakatan bersama dengan para pegawai lainnya agar menutup sementara pendaftaran untuk pasien yang tidak gawat, mengingat didalam sedang banyak pasien dan di RSUD sedang dipenuhi para calon ASN yang sedang test Kesehatan.

 

“Mungkin tidak terima, orang dinas itu langsung telepon manajemen, singkatnya kami langsung dimarah,”kata Dena menceritakan permasalahan.

 

Selanjutnya, terus Dena. Keluar pasien itu justru pergi begitu saja, setelah menelepon pihak manajemen. Harusnya, menurutnya bila sudah ada kenalan orang dalam kenapa tidak langsung berkomunikasi atau kenapa tidak bisa bersabar sedikit. Terlebih bukan merupakan pasien gawat darurat.

 

“Jadi waktu, itu ada kesalahan fahaman dengan keluarga pasien yang hendak mendaftarkan, saat itu saya menegur. Sang keluarga pasien dan Dena sedikit berargumen, secara spontanitas dan dalam keadaan emosional, saya mengatakan kenapa tidak langsung menelepon Purnomo, nah itulah yang diduga jadi sebab ketersinggungan,”urai Dena.

 

Esok harinya, sang Direktur langsung marah besar dengan memanggil keruangan kerjanya. Menyadari salah, dirinya langsung meminta untuk dimaafkan, namun Purnomo tetap bersikukuh akan melakukan pemecatan, bahkan dia menantang siapa saja yang bisa melawan kehebatan pena yang digunakan dia dalam menandatangani surat.

 

“Pokoknya saya sudah berulangkali menyampaikan permohonan maaf, tapi tidak sedikitpun pak Purnomo bergening. Dia justru meminta saya untuk mengerahkan keluarga atau orang dibelakang saya, untuk menghadapinya,”bebernya panjang.

 

“Silahkan kamu mau mengadu kepada siapapun, saya tidak takut. Mau mengadu ke Pj Bupati, DPRD, atau Wartawan saya tidak ada urusan,”kata Dena menirukan ucapan mantan pimpinannya.

 

Dena menyesalkan perlakuan tidak adil dari atasannya, yang mana para pegawai lainnya, hanya diberikan SP.1 tanpa harus ada pemberhentian. Dena tidak menyerahkan, beberapa kali dia menemui pihak manajemen untuk memberikannya kesempatan namun selalu ditolak, Parahnya lagi, sepekan lebih dari dia dilakukan pemecatan dia kembali dipekerjakan dibagian dapur setelah dirinya mengadu kepada Anggota DPRD.

 

Awalnya dirinya menganggap itu hanya hukuman untuk beberapa Minggu, namun berjalannya waktu. Dia tetap tidak ditarik ketempat semula atau dapat ditaruh ditempat sesuai bidang Pendidikannya. Akhirnya Dena harus memutuskan benar-benar berhenti.

 

Dalam kesempatannya, Bidan yang telah ditinggal ayahnya sejak ia masih kecil. Berharap sang direktur tidak berlaku sewenang-wenang terhadap bawahannya, dia juga berharap direktur dapat lebih bijaksana dan profesional tidak selalu menyombongkan jabatan dan dapat berlaku adil.

 

“Banyak sekali permasalahan dan kejanggalan dirumah sakit, permasalahan yang saya lakukan dengan teman-teman pendaftaran itu sangat spele, sebab kami sudah memberikan kesempatan agar keluarga pasien menunggu dan pasien pun belum tiba di RSUD, ada kelalaian besar lainnya yang menurut kami fatal dan ada indikasi tidak beres didalam manajemen,”tutup Dena. (Tim)

50 1,026 total views, 50 3 views today

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed